MAKALAH
PENGGUNAAN
BAHAN DAN ALAT UNTUK
MENCIPTAKAN
KARYA MEMBENTUK
Diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Kerajinan Tangan yang diampu oleh :
Dra. Hj. Ike Hananik, M.Pd
Di susun oleh :
KELOMPOK
6
Alia Elsyahada A1E415001
Fatmah A1E415010
Ifi A1E415016
Siti Soraya A1E415042
Dina Fajriyani A1E415054
KELAS
: 7A PG-PAUD
KEMENTERIAN
RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM
STUDI S1 PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2018

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim...
Puji syukur kami panjatkan
kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya
kami dapat menyelesaikan hasil makalah yang berjudul “Penggunaan Bahan Dan Alat Untuk
Menciptakan Karya Membentuk“ dengan tujuan untuk memenuhi salah tugas
mata kuliah Kerajinan Tangan. Dan juga kami berterima kasih kepada Ibu Dra. Hj.
Ike Hananik yang telah memberikan bimbingan dan arahannya dalam penyusunan tugas
ini sehingga dapat terlaksana dengan baik.
Kami sangat berharap makalah ini
dapat berguna sebagaimana mestinya, dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini
terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk itu
kami berharap adanya kritik dan saran demi perbaikan tugas yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa ada saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat
di pahami dan bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.
Banjarmasin,
05 September 2018
Kelompok
6
DAFTAR
ISI
JUDUL.................................................................................................................................i
KATA PENGANTAR.........................................................................................................ii
DAFTAR
ISI.......................................................................................................................iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Membentuk bagi Anak Usia Dini (AUD) menyajikan jenis
bentuk, dan sifat seni rupa anak, serta di lengkapi apresiasi seni rupa anak.
Materi belajar ini meliputi: arti seni rupa bagi anak, karakteristik seni rupa
anak dan perkembangan seni rupa anak di tinjau dari berbagai sudut pandang.
Praktek berkarya seni rupa anak di harapkan dapat memberi keluasan membina anak
melalui keterampilan seni rupa, dan mampu memilih metode secara evaluas yang
mana menyajikan model pendekatan belajar seni rupa anak.
Adapun teknik mengapresiasi lukisan anak untuk
kegiatan pengembangan seni rupa di kelas maupun konteks lomba melukis untuk
anak. Agar mampu mengapresiasi dan mengajar keterampilan seni rupa, kita juga
perlu berkarya menciptakan gambar, membentuk ataupun dengan jenis karya rupa
yang lain. Dengan mempelajari materi ini diharapkan kemampuan penghayatan terhadap
gambar atau karya seni rupa anak-anak akan meningkat.
Materi ini akan memberikan pemahaman tentang manfaat
mempelajari seni rupa bagi perkembangan anak, karakteristik lukisan, analisis
perkembangan lukisan anak dan teknik evaluasi melalui metode perbandingan
(komparasi) lukisan.
Setelah mempelajari hal di atas, diharapkan
mahasiswa dapat menjelaskan teknik membentuk bagi AUD dengan benar, dan secara
khusus setelah membaca maupun
mempelajarinya diharapkan mampu: Menjelaskan pengertian membentuk dan
manfaatnya bagi AUD; menjelaskan cara memilih media membentuk bagi AUD;
menjelaskan gagasan membentuk bagi AUD; memilih material membentuk bagi AUD;
dan memilih teknik membentuk bagi AUD.
Untuk mempermudah kita dalam mempelajari isi materi
ini maka akan di organisasikan ke dalam dua kegiatan belajar, yaitu sebagai
berikut.
1. Kegiatan
belajar 1 : Membentuk dan Manfaatnya
bagi Anak Usia Dini, Materi dalam kegiatan belajar ini meliputi: gambar modul,
pengertian dan cakupan membentuk, dan manfaat membentuk.
2. Kegiatan
belajar 2 : Media dan Teknik Membentuk,
dengan materi yang meliputi: menyiapkan bahan dan peralatan, serta latihan
membentuk.
B.
RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang di dapat, antara lain:
1.
Jelaskan Pengertian Dan Cakupan
Membentuk Pada Kerajinan Anak Usia Dini?
2.
Apa Saja Manfaat Membentuk Bagi Anak
Usia Dini?
3.
Apa Saja Bahan Dan Alat Yang Perlu
Disiapkan Dalam Kerajinan Membentuk?
4.
Apa Saja Yang Dapat Dibuat Dalam Latihan
Membentuk Bagi Anak Usia Dini?
C.
TUJUAN PENULISAN
1. Untuk
Mengetahui Pengertian Dan Cakupan Membentuk Pada Kerajinan Anak Usia Dini.
2. Untuk
Mengetahui Apa Saja Manfaat Membentuk Bagi Anak Usia Dini.
3. Untuk
mengetahui Apa Saja Bahan Dan Alat Yang Perlu Disiapkan Dalam Kerajinan
Membentuk.
4. Untuk
Mengetahui Apa Saja Yang Dapat Dibuat Dalam Latihan Membentuk Bagi Anak Usia
Dini.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
GAMBARAN UMUM
Membentuk merupakan materi untuk melatih mahasiswa
berkarya seni rupa dengan media tiga dimensi. Keterampilan yang di dapat
setelah mempelajari modul ini dapat digunakan untuk memberikan latihan
membentuk pada anak usisa dini. Tujuan utama mempelajari keterampilan membentuk
anak usai dini adalah mengembangkan kecakapan visual dan peningkatan kualitas
rasa seni melalui berkarya dan mengamati lingkungan sekitar. Kompetensi yang
diharapkan adalah kemampuan menginterpretasikan lingkungan untuk perkembangan
sekitar.
Ketika seorang
membeli pesawat televisi yang baru, dalam dus terdapat beberapa paket, di
antaranya: paket pesawat televisi, paket modul petunjuk praktis menyetel
pesawat televisi dan paket cara memasang antena televisi dan paket voucher atau
hadiah lain. Pada paket pesawat sendiri sudah terapat petunjuk berupa tombol
ataupun lampu dan beberapa tanda larangan untuk di pegang karena menunjukkan
bahaya dari tegangan listrik. Akan tetapi, hampir seluruh orang malas menyetel
sendiri dengan mencoba. Mereka kebanyakan meminta pengantar untuk menyetel
pesawat televisi tersebut, akibatnya harus mengeluarkan biaya tambahan sebagai
pengganti jasa menyetel gelombang dan chanel
(saluran)
Contoh di atas membuktikan betapa pentingnya seorang
mampu membaca petunjuk atau modul manual menyetel. Petunjuk tersebut disertai
gambar yang mudah di mengerti dan di pahami. Sebagaian besar paket petunjuk
pemeliharaan dan menyetel itu berupa gambar keterangan tentang seluk beluk
pesawat, tipe dan kekhususannya. Lalu, apa yang menyebabkan dia malas mengerakan
sendiri. Salah satu jawaban yang terbanyak adalah tidak mampu membaca gambar
dan menunjukan prosedur penyetelan yang sudah ada. Kemampuan membaca gambar dan
bentuk ini sering di namakan kecakapan visual. Hak ini beda degan mereka yang
mempunya visi bentuk sebagai kecakapan visual. Modul untuk menyetel secara
pelan-pelan dipelajari dengan membaca dan mecoba mempraktekkannya.
Kecakapan visual atau sering disebut intelegensi
visual (visual intellegence) adalah
kemampuan menanggapi, dan memahami benuk secara cepat. Kemampuan ini diperlukan
untuk melihat bentuk yang diam (statis) dengan susunan rumit sampai dengan
bentuk bergerak (mobile) dari
sederhana sampai dengan rumit. Pada dasarnya berlajar membutuhkan kemampuan
melihat dan menanggapi bentuk, baik dalam benuk gambar, huruf, film, maupun
video. Untuk itu kegiatan pengembangan kecakapan visual dapat di mulai dengan
mengerti bentuk-betuk di dunia baik bentuk alami tanpa warna, dan bentuk
berwarna tunggal (monochromatic)
maupun berwarna warni (polychromatic),
seperti halnya bentuk buatan (artifisial) misalnya mainan anak, benda produksi
pabrik yang lain. Di lihat dari sisi pengindraan, bentuk terjadi kalau
seseorang mampu membedakan ruang, dan latar belakang. Oleh karenanya, pemahaman
bentuk dapat dipelajari sejak usia dini.
Anak usia dini tumbuh berkembang dari belajar
memahami bentuk global sampai pada bentuk-bentuk yang rinci (detail). Kemampuan
pemahaman bentuk berkembeang seiring dengan perkembangan otak, pikiran dan
perasaannya. Manfaat kemampuan memahami bentuk sangat banyak, mulai dari
kegunaan untuk berlajar, merasakan hingga menangkap objek secara detail.
Biasanya kemampuan pemahaman anak tentang bentuk
jarang diketahui orang tua atau pendidik, sehingga anak hanya mencoba dan
mempraktekannya sendiri. Padahal kemampuan ini sangat di butuhkan dalam
perkembangan pengamatan anak. Sebagai contoh anak yang sedang belajar memahami
bentuk dia akan (a) memperhatikan mainan yang baru, melihatnya dengan seksama
kemudian (b) membongkar mainan tersebut dan melepasnya tiap bagiannya untuk
mengetahui susunannya, (c) terakhir anak akan menyusun kembali misalnya dia
akan memasang salah satu bagian yang di anggapnya menarik. Kegiatan ini kadang
hanya berhenti sampai membongkar dan dia
ketahuan oleh orang tua atau orang dewasa di sekitarnya akan dilarang. Larangan
ini akan menimbuklan kesan bahwa kegiatan memahami bentuk akan berheti sampai
disitu sehinngga akahirnya anak tidak mengetahui persis susunan dari benda atau
objek tersebut.
Pendidikan seni rupa membantu anak memahami bentuk,
baik bentuk tiga dimensi (yang mempunyai isi) maupun gambar, dengan cara
mengamati dan mencoba berpraktek. Bentuk dua demensi bisa di latihkan melalui
kegiatan menggambar, melukis dan mencetak ataupun menoreh dengan benda tajam.
Sedangkan, kegiatan latihan memahami bentuk tiga dimensi di lakukan dengan
jalan menyusup, merangkai, menoreh, memahat, mengukir, mengontruksi dan
mengecor. Selanjutnya kegiatan membentuk pada materi ini diarahkan mengontruksi,
menyusun, dan memahat.
Selanjutnya, agar seorang pendidik mampu
menyampaikan kegiatan pengembangan kecakapan visual kepada anak usia dini maka
sebaiknya harus mulai berlatih sendiri. Masing-masing kegiatan membentuk
mempunyai tujuan yang khas, misalnya pemahaman mengonstruksi bentuk bertujuan
melatih kemampuan mengamati dan menyusun secara cermat, seni dan akurat
(tepat). Memahat merupakan klegiatan memahami bentuk lewat sentuhan tangan,
yang sangat berguna bagi pengembangan kemampuan raba (tactile). Membutsir (membentuk dengan tanah liat) berguna untuk
menyusun dengan cepat dan ekonomis serta kemampuan penglihatan terhadap bentuk
yang ada. Pengaruh positif yang dapat di peroleh dengan kecakapan visual adalah
kemampuan memahami bentuk secara kontruksi, seni secara utuh beserta makna
kegunaannya.
Untuk mempersiapkan latihan membentuk, anda diminta
menyediakan media yang berbentuk liat, cair (liquid) untuk cor seperti lilin panas, padat untuk dipahat seperti
sabun atau keras seperti kayu, batu dan mengontruksi benda-benda limbah dan
karton atau kardus bekas pembungkus makanan. Selanjutnya anda diminta mengamati
beberapa bentuk yang ada dilingkungan sekitar seperti rumah, patung keramik,
dan perabotan rumah tangga.
B.
PENGERTIAN DAN CAKUPAN MEMBENTUK
Dalam kalimat sederhana, kegiatan membentuk adalah
membuat bentuk, baik bentuk terapan yang dapat di manfaatkan dalam kehidupan
sehari-hari maupun bentuk-bentuk yang kreatif sebagai karya seni murni. Adapun
ruang lingkup membentuk dibagi berdasarkan media dan tekniknya. Tujuan kegiatan
membentuk pada pendidikan seni rupa untuk anak usia dini adalah: (a) Melatih
pengamatan, (b) melatih kecermatan dan ketelitian, (c) melatih kemampuan
ketetapan, (d) melatih kreativitas, (e) melatih kepekaan rasa indah, (i)
melatih menggunakan bahan secara ekonomis dan hemat, (g) melatih mengembangkan
rasa keterpakaian tinggi, (h) melatih memanfaatkan benda limbah menjadi benda
baru untuk permainan, maupun kesenian dan benda-benda terapan.
Wawasan membentuk sebaiknya di mulai sejak dini
karena dengan sering melakukan kegiatan membentuk anak akan mempunyai kecakapan
visual yang sangat berguna bagi perkembangan lain. Sebagai contoh: kegiatan
membentuk dapat berguna untuk membantu anak belajar. Hampir seluruh kegiatan
belajar di sertai dengan gambar dan bentuk. Bentuk dalam gambar yang sebenarnya
adalah bentuk yang mempunyai isi. Dengan kecakapan visual, seseorang mudah
mempelajari materi kegiatan belajar. Kecakapan visual yang dilatih dengan
menggunakan tangan setidaknya akan memberi pengaruh positif dalam pengembangan
pengamatan sebagai bagian yang terpenting dalam modal belajar.
Isi dan cakupan kegiatan membentuk terdiri atas; (a)
menyusun atau merangkai, mengontruksi benda, (b) membutsir, (c) memahat, (d)
menempel, (e) melipat, (f) merekayasa bentuk lama menjadi bentuk baru dengan
fungsi baru, (g) mencetak dan mengecor, cakupan ini masih dikatakan bagian dari
kesenian jika dalam proses maupun hasil di temukan sesuatu bentuk yang menarik,
mempunyai nilai kreativitas yang tinggi serta sebagai karya bentuk yang baru (novelty). Kegiatan membentuk dapat
dilakukan dengan tugas individual maupun kelompok. tugas kelompok diharapkan
dapat melatih kesetiakawanan sosial diantara teman sebaya.
1. Konstruksi
Istilah konstruksi dapat diartikan sebagai menyusun
komponen-komponen atau benda-benda menjadi suatu kesatuan yang berfungsi
praktis maupun seni. Penyusunan benda sebagai komponen ide keseluruhan
menggunakan bermacam-macam media dan cara seperti: memberi lem atau perekat,
memaku, mengikat, dan menjahit.
2. Kolase
Kolase atau
menyusun benda-benda secara bebas bertujuan untuk melatih kreativitas. Benda
hasil susunan tersebut nantinya akan menjadi alat atau media bagi anak untuk
berfantasi dan mengandaikan dirinya menjadi sesuatau yang lain. Misalnya menyusun
benda-benda dengan membayangkannya sebagai makhluk angkasa luar. Bentuk kolase
ini dilakukan dengan tujuan tertentu atau sekedar disusun untuk mencapai
keindahan murni. Karya terakhir ini sering disebut seni instalasi.
Karya disamping
ini menggunakan kardus yang disusun menjadi kolase, oleh anak Taman Kanak-Kanak
karya ini dibayangkan sebagai rumah masa depan. Secara berkelompok anak-anak
mengumpulkan katron bekas makanan, dan dibantu oleh pendidik serta orang
tuanya. Mereka membuat permainan yang akhirnya ditemukan bentuk rumah.
3. Memotong dan menempel
Suatu bentuk
yang berisi (ber-ruang) dapat dibuat dengan cara memotong dan menjahit,
sedangkan bahan yang berupa kain dapat di jahit kemudian di isi dengan kain
perca, kapuk, kapas atau spon/busa. Bentuknya bisa berupa boneka, atau figur binatang
ataupun makhluk kreasi.
Teknik memotong
dan menempel juga dapat digunakan untuk mengonstruksi karton atau kardus bekas
rumah, jembatan atau bentuk lainnya yang bersifat monumental. Prosedur pembuatannya
pun dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : (a) membuat pola geometris dengan
ketepatan ukuran (precission)
kemudian disusun dengan menempelkan pola satu persatu sehingga menjadi bentuk
utuh, (b) kardus bekas pembungkus makanan seperti mie instan, kotak sabun yang
berukuran relatif besar disusun langsung sesuai dengan kreasi pada saat
mengerjakan. Penempelan kardus satu dengan yang lain bisa dilakukan dengan cara
mengikat terlebih dahulu kemudian diperkuat dengan lem atau staples sesuai
dengan kebutuhan.
4. Membutsir
Kegiatan membutsir adalah menempel sedikit demi
sedikit bahan liat dan lunak menjadi bentuk kasar dan kemudian dibentuk dan
diperhalus dengan cara mengurangi atau menambah sehingga lebih terasa padat.
Cara ini dilakukan dengan menggunakan alat sudib.
Lihat Kegiatan Belajar 2 tentang peralatan membutsir). Beberapa orang suka
membentuk tanah liat dengan jalan membuat pilinan atau memilin terlebih dahulu.
Pilin tersebut disusun mulai dari bawah menuju ke atas dan akhirnya terbentuk
pola atau figur yang diharapkan. Oleh karenanya, anak-anak dapat dilatih dengan
cara membuat pilin-pilin terlebih dahulu.
5. Memahat
Memahat adalah benda menjadi karya seni atau mainan
anak dengan menggunakan pahat. Kegiatan memahat akan menghasilkan karya ciptaan
baru yang belum pernah dibuat oleh orang lain atau membuat suatu benda dengan
fungsi berbeda dari sebelumnya. Bahan yang dipahat bisa berupa: kayu, batu atau
sabun batangan.
a. Bahan
keras (kayu) atau papan dapat dipahat dengan peralatan pahat seperti
pertukangan kayu.
b. Batu
putih
Bahan ini dipahat dengan
menggunakan pahat batu (seperti pahat batu untuk membuat Nisan), pemecah batu,
gerinda atau kikir (baik kikir halus maupun kikir kasar (patar). Bahan batu
yang cocok untuk dipahat adalah batu putih atau sering disebut batu kapur. Batu
ini mempunyai sifat keras tetapi mudah digores sehingga untuk memahat batu
kapur ini dapat digunakan alat pahat dengan memodifikasi ujungnya. Bentuk ujung
tersebut seperti pada ujung pahat kayu.
c. Bahan
Lunak (sabun)
Peralatan untuk memahat sabun lebih
sederhana dari peralatan pahat yang telah disebutkan. Hal ini disebabkan karena
bahan atau medium sabun digores dan dikeruk. Medium sabun sendiri dapat
dijumpai dimana-mana, baik sabun mandi batangan maupun sabun cuci batangan.
Cara membentuknya pun cukup mudah dan dapat digunakan secara langsung oleh
anak.
6. Melipat
Istilah melipat dapat berupa kegiatan meremas bahan
kertas kemudian disusun kembali menjadi karya seni rupa tiga dimensi. Melipat
sendiri telah dikenal dengan metode origami. Metode ini dikembangkan di negeri
Jepang sebagai salah satu bentuk seni tradisional. Kegiatan ini dilakukan untuk
mengisi waktu luang. Anak-anak sering sekali memainkan dan melipat-lipat kertas
menjadi sebuah bentuk yang menarik. Kegiatan melipat dengan metode origami
sangat penting untuk menumbuhkan kecakapan visual di samping mengembangkan rasa
seni tentang bentuk.
Origami merupakan seni melipat kertas untuk
membentuk karya tiga dimensi, dan meremas kertas lalu membentuknya kembali
merupakan karya rupa tiga dimensi yang ekspresif. Teknik ini mirip dengan
papier mage (baca papir mase) yaitu bubur kertas yang dibentuk. Kegiatan
peremasan tersebut hanya untuk kegiatan membentuk dasar dan dilanjutkan dengan
menutup kertas sobekan dengan lem.
Kertas sobekan panjang dengan lem. Penyelesaian
karya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu sebagai berikut: (1) Karya
dibiarkan tanpa warna, yaitu warna asli dari warna kertas. (2) Mengeringkan
terlebih dahulu karya yang telah di bentuk kemudian diberi warna dengan
menggunakan cat. Penampilan karya dapat berdiri sendiri mirip sebuah patung,
atau dapat juga digantung sebagai maskot.
7. Mengecor
Kegiatan mengecor ini dapat dilakukan dengan bahan
tanah liat, tanah biasa, gips, lilin dan adonan kue. Prinsip mengecor adalah
membentuk dengan membuat klise (model cetakan) terlebih dahulu, klise tersebut
dapat berupa model yang sudah ada kemudian di beri bahan tuang seperti yang
telah di sebutkan. Terdapat 3 macam bentuk klise (1) klise untuk cetak hilang
artinya klise tersebut akan rusak setelah dilakukan pengecoran, misalnya klise
tanah dengan menggali langsung di tanah, (2) klise alam seperti kulit buah-buahan
yang sederhana. (contohnya : kulit tanah, atau buah pepaya yang dibagi dua).
(3) klise tetap yaitu klise yang relatif dibuat untuk mencetak,misalnya klise
kue.
C.
MANFAAT MEMBENTUK
Lansing menjelaskan
bahwa kegiatan membentuk sangat diperlukan bagi pengembangkan anak secara
menyeluruh. Kegiatan membentuk dimulai dari mengamati benda 3 dimensi, mencoba
menirukan dan kemudian mengkresikan. Pada proses mengamati, kegiatan mengamati
bentuk 3 dimensi bukan merupakan kegiatan yang mudah terutama bagi anak. Pada
usia 2 tahun, anak belum memahami secara teliti dan detail susunan bentuk 3
dimensi. Penglihatan ini kemudian bertambah ketika usia mental dan fisik telah
mampu merasakan sebagai cara untuk mengerti bentuk. Kegiatan berlanjut ketika
anak mampu meraba benda keras dan lunak serta volume atau isi bentuk yang di
raba. Perkembangan yang paling cepat terjadi ketika perasaan dan pikiran anak
mulai terpisah. Pada saat itu usia 5 tahun anak telah mampu membedakan bentuk
tipis dan tebal serta menunjukkan volume bentuk dengan tepat.
1.
Mengenal benda
dilingkungan sekitar
Seperti kegiatan
menggambar dan melukis, anak pada usia 2 sampai dengan 5 tahun sangat sibuk
mewujudkan bentuk manusia dalam gambarnya. Dalam kegiatan membentuk pun anak
sedang mencari prinsip penyusunan. Kenneth M. Lansing (tt) menjelaskan, ketika
anak-anak diberi kesempatan memegang tanah liat, karya pertama yang dilakukan
adalah membuat pola seperti menggambar. ... They
begin by pushing, pounding, and breaking the clay for the sheer enjoyment of
tactile and kinesthetic sensations. (tt.,146).
Dari penjelasan ini, kegiatan
anak kadang hanya memainkan bentuk yang ada dan di bayangkan seperti bentuk
aslinya. Pada masa ini kegiatan mengimitasi bentuk masuk ke dalam kegiatan
permainannya. Anak mengajak berbicara benda-benda di lingkungan sekitar dan
kadang dianggapnya seperti teman. Benda- benda tersebut dapat melakukannya.
Ketika perilaku anak mulai reda, ia mulai dapat mewujudkan patung atau benda
lainnya. Secara garis besar penjelasan
tersebut dapat dilihat pada skema sebagai berikut.
![]() |
||||
![]() |
||||
![]() |
||||
![]() |
||||
2.
Pengembangan
Fungsi Otak dan Rasa
Sebelum pembahasan
dilanjutkan secara rinci tentang makna membentuk bagi pengembangan fungsi otak
baik kanan maupun kiri, maka sebaiknya anda amati bentuk kubus di bawah ini.
Coba anda sebutkan posisi atau letak garis A dan garis B. Bisakah anda
menentukan salah satu dari kedua garis tersebut yang terletak dimuka. Apakah
anda merasakan kesulitan (bingung)
ketika melihat kedududkan dan posisi kubus tersebut? adakah kesalahan
meletakkan garis ?
![]() |
B
![]() |
A
Gambar
Kubus dengan posisi garis A belum jelas sehingga sulit di identifikasi
Refleksi:
a.
Kubus tersebut memang belum ada penjelas
posisi dengan menyamakan simbol garis
b.
Kemampuan pengindraan untuk
menentukan kedudukan garis tersebut
ternyata dipengaruhi oleh subjektivitas, artinya kubus tersebut akan menjadi
berposisi garis A ada di depan garis B ada di belakangnya tergantung pada anda
sendiri sebagai pengamat.
c.
Bagi anak yang kemampuan indra
penglihatannya tidak jeli tidak dapat melihat bentuk kubus tersebut secara
tepat dan kubus tersebut mungkin akan dibterjemahkan seadanya.
d.
Bagaimana membuat dimensi yang
sesungguhnya jika garis A berada di depan.
![]() |
B
![]() |
A
Dalam gambar ini telah nampak
posisi garis A dan B, sehingga dengan mudah mengidentifikasi bentuk kubus.
3. Pengembangan
Keterampilan Teknis Kecakapan Hidup
Secara tidak sengaja kegiatan pengembangan membentuk
yang diberikan kepada anak akan menumbuhkan kecakapan yang dapat dipergunakan
untuk kebutuhan hidup. Kecakapan ini disebut dengan kecakapan berketerampilan
hidup. Dalam beberapa teori dijelaskan bahwa kegiatan berseni rupa mempunyai
dampak ikutan (nurturant effect)
yaitu efek positif sebagai efek lanjut ketika mengerjakan sesuatu. Misalnya
dengan terampil memotong kertas maka keterampilan ini dapat digunakan untuk
memotong baju di masa yang akan datang. Pemindahan keterampilan ini juga sering
disebut transfer of training. Di
dalam kehidupan nyata, keterampilan ini sangat dibutuhkan untuk mengerjakan
benda-benda atau objek lain yang sejenis. Selain itu keterampilan membentuk
dengan menyusun akan melatih rasa keindahan, akan dapat di pergunakan untuk
menyusun atau menata dan mengatur perabot rumah tangga.
D.
MENYIAPKAN BAHAN DAN PERALATAN
1. Was
atau Plastisin
Bahan ini sudah berbentuk paket yang dapat dibeli di
toko. Bahan dasar was atau plastisin berasal dari lilin dicampur dengan lemak
dan serbuk yang tidak mudah mengeras. Sifat bahan ini lunak dan mudah dibentuk.
Kelebihan bahan lunak tersebut sudah diberi warna sehingga saat digunakan dapat
dicampur. Namun jika telah bercampur, beberapa warna menjadi gelap dan tidak
bisa dipisahkan ke warna aslinya. Jika sudah digunakan berkali-kali menjadi
kehitaman (kotor) oleh tangan dan debu. Cara menggunakan was atau plastisin
adalah dengan cara diremas terlebih dahulu agar bahan menjadi lunak dan lembek
namun liat, sehingga bahan ini mudah dibentuk. Teknik membentuk dilakukan
secara langsung dengan tangan atau dengan peralatan yang dapat menimbulkan
bekas atau justru peralatan yang dapat membuat halus, seperti : balon lampu,
sendok makan serta kesan telapak tangan.
2. Sabun
Batangan
Pada
beberapa daerah sabun berbentuk batangan sulit diperoleh, karena warga sudah
banyak beralih menggunakan sabun bubuk atau cair. Sabun batangan ini dipilih
yang tidak banyak bermuatan soda, agar tidak membahayakan tangan saat
menggunakan. Teknik membentuk dilakukan dengan cara mengeruk, mengurangi dengan
benda tumpul-pipih atau alat mematung yang disebut dengan sudib. Alat sudib
sudah banyak disediakan di toko peralatan sekolah. Bahan ini terbuat dari kayu
dan ujungnya mempunyai bentuk bermacam-macam sehingga mudah menggunakannya.
Pada akhir-akhir ini juga diproduksi sudib dengan bahan kayu untuk tubuhnya dan
ujungnya berupa kawat baja. Kawat ini memudahkan untuk mengeruk dan mematahkan
batangan sabun. Sabun batangan yang bisa digunakan antara lain “sabun cuci”
ukuran sabun ini besar sehingga anak lebih leluasa. Jika batangan sabun cuci
tidak didapatkan bisa diganti dengan sabun mandi. Secara prinsip keduanya bisa
dipakai.
Batangan
sabun mandi dapat dibentuk dengan alat sudib dengan cara mengeruk, atau dapat
juga dibuat bentuk seperti menggunakan tanah liat. Caranya adalah : (a) sabun
diremas atau dilumat sehingga liat, (b) lumatan (moulding) sabun bisa diberi pewarna sesuai dengan keinginan dan
desain (rencana), (c) lumatan tersebut dapat dibuat lempengan dengan alat roler
atau langsung menggunakan tangan sehingga menyerupai daun bunga untuk membentuk
bunga, buah-buahan atau bentuk lainnya.
Cara
lain untuk membuat lempengan adalah dengan menekan (press) sabun tersebut sehingga berbentuk tipis. Secara tradisional
dapat dilakukan dengan memukul-mukul sabun tersebut hingga pipih seperti
lempengan dan selanjutnya disempurnakan dengan pijitan tangan secara langsung.
Teknik ini juga dapat dipergunakan untuk membuat lempengan dari bahan tanah
liat, tepung gandum serta serbuk kayu, maupun bubur kertas.
3. Tanah
Liat dan Tanah Keramik
Bahan ini mudah
diperoleh di pelosok pedesaan, namun di kota-kota tertentu sudah sulit ditemui.
Namun demikian bahan ini dapat dimodifikasi dengan bahan pengganti seperti abu
kayu, serbuk kayu atau abu gosok, serta bahan lain yang berupa serbuk dan mudah
dicampur dengan perekat. Jika bahan tersebut berasal dari tanah liat yang masih
padat dapat dilakukan terlebih dahulu dengan merendam tanah agar menjadi lumpur
(moulding); lumpur tersebut dibiarkan
dalam waktu tertentu. Selanjutnya diremas agar dapat menjadi liat dan mudah
dibentuk.
Jika bahan dasar
tanah liat tidak dapat dijumpai, pendidik dapat memodifikasi dari bahan abu
kayu atau abu gosok. Cara membuat agar abu tersebut menjadi liat adalah
mencampurnya dengan lem (kayu atau kertas). Bahan buatan sendiri dari abu gosok
ini relatif sulit dibentuk jika pencampuran lem terlalu cair, maka sebaiknya
ketika mencampur dengan lem diatur agar tidak terlalu cair dan diusahakan agar
kental. Agar hasil karya yang berasal dari bahan abu gosok bisa sempurna, maka
sebaiknya abu gosok tersebut disaring terlebih dahulu.
4. Tepung
Gandum
Bahan ini tidak
membahayakan anak, karena terbuat dari tepung gandum. Prinsip persiapan membuat
bahan dasar sama seperti membuat kue dari bahan tepung gandum. Pertama buatlah
adonan terlebih dahulu seperti membuat adonan kue jika akan diselesaikan dengan
pengepanan (di masak sesungguhan). Bisa juga hanya berupa adonan dengan
pencampuran lem. Jika pencampur menggunakan lem kayu maka penggunaan bahan
tersebut harus lebih berhati-hati karena masih ada unsur kimia yang
membahayakan. Namun jika pencampur tersebut dari bahan tepung kanji (ketela)
tidak berbahaya.
Bahan membentuk
ini dapat berupa (a) bahan agak cair yang nanti akan dicetak dan dimatangkan,
(b) bahan padat lunak yang langsung dibentuk menjadi bermacam-macam pola. Pada
bahan cair, pendidik dapat mempersiapkan terlebih dahulu alat atau klise
cetakan, sedangkan untuk bahan padat lunak dapat dibuat dengan cara mencetak
dengan alat cetakan seperti cetakan hewan, atau binatang serta bunga yang sudah
ada. Agar anak merasa bangga maka anak dapat membentuk langsung. Pada bahan
lunak juga dapat dibuat menjadi kue donat yang diselesaikan dengan menggoreng
mengukus dan kemungkinan ada yang direbus. Hal ini disesuaikan dengan tujuan
dan resep. Kue tersebut dapat disuguhkan kembali kepada orang lain dengan
bentuk dan hiasan yang khas. Kegiatan membentuk ini akan bermanfaat sebagai life skill.
5. Bubur
Kertas
Bubur kertas merupakan pemrosesan
kertas bentuk lembaran menjadi bentuk yang lembek seperti bubur. Kertas yang
digunakan haruslah yang mudah hancur dengan air, dalam hal ini yang paling
cocok adalah kertas koran.
6. Limbah
Serbuk Kayu
Seperti
halnya adonan bubur kertas, limbah serbuk kayu atau sering disebut serbuk
gergaji kayu. Serbuk gergaji ini biasanya dibuang atau dimanfaatkan untuk bahan
bakar dengan cara dipadatkan terlebih dahulu. Pada kesempatan ini serbuk
tersebut akan dibentuk sesuai dengan selera atau dibuat padat agar mudah
mengering dengan cara memberi lem kayu atau lem kertas sehingga pada suatu saat
mengering. Berhubung sifat serbuk ini kasar, pembentukan diharapkan secepat
mungkin agar lem tidak mengalir (banyak air). Prosedur pembuatan bubur serbuk
gergaji dapat dilakukan dengan cara berikut.
a. Serbuk
disaring atau dipilih sesuai dengan kebutuhan, jika akan dicetak bahan harus
dibuat halus.
b. Jika
serbuk yang diinginkan tidak akan diberi warna, artinya bubur padat serbuk tadi
langsung diberi lem, kemudian segera dipergunakan.
c. Jika
serbuk tadi akan dicetak maka sebaiknya agar cair dengan memperbanyak lem kayu
sebagai pencampur perekatan.
d. Jika
serbuk tersebut akan diberi warna maka pada waktu basah dapat dilakukan
perendaman dengan bahan tawas atau bahan pemutih pakaian beberapa hari
sebelumnya. Tujuan pemberian tawas atau pemutih pakaian adalah untuk memutihkan
bahan. Serbuk tersebut kemudian ditiris untuk menghilangkan atau mengurangi
kadar kandungan air agar pencampuran dengan lem dapat diatur kepadatannya.
e. Serbuk
gergaji yang sudah padat dapat dibentuk langsung; ketika akan membuat tempat
pensil dapat dilakukan dengan menempelkan pada kaleng ataupun gelas. Serbuk
tersebut dibuat agak lembek kemudian ditempelkan pada kaleng secara rata
mengitarinya. Setelah penempelan selesai maka perlu dikeringkan selama beberapa
waktu. Jika telah mengering maka mudah untuk melepaskannya. Untuk memperindah
hasil cetakan serbuk gergaji kayu tersebut dapat diberi warna dengan cat air,
cat tembok atau dengan cat kayu.
7. Cetak
dan Cor Lilin
Prosedur
cetak cor lilin memerlukan klise cetak cor yang dapat memanfaatkan benda-benda
bekas mainan anak-anak. Namun, karena bahan ini dituangkan dalam keadaan panas,
maka sebaiknya dilakukan untuk anak usia mendekati 6 tahun. Hal ini untuk
menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti luka bakar.
Klise
cor tersebut dapat dibuat terlebih dahulu kemudian digunakan untuk mengecor. Membuat
klise cor berbentuk kepala boneka yang sudah rusak badannya. Sediakan serbuk
pasir atau abu gosok yang halus dengan cara menyaring dengan kain kasa atau
alat penyaring. Campurkan lem kayu atau lem kertas dan diremas untuk menjadi
liat (moulding) dari tanah pasir atau
abu gosok. Adonan tadi dicetakkan ke dalam kardus bekas.
Adonan
setengah kering tersebut siap untuk di cor dengan lilin cair, yang terlebih
dahulu dipanaskan di dalam mangkuk yang terbuat dari bahan logam dan terdapat
pegangannya.
8. Patung
Pasir
Kegiatan
membuat patung pasir merupakan hal yang sangat disukai oleh anak-anak.
Biasanya, anak bermain-main di atas gundukan pasir dan membentuk figur yang
disukai. Pasir tersebut diusahakan sendiri oleh sekolah agar dapat dipilih
pasir yang relatif lebih bersih. Usahakan pasir tersebut tidak banyak kandungan
tanah, terutama tanah liat agar anak juga mendapatkan kesulitan ketika
membentuk figur yang diinginkan. Kemudian ini dapat digunakan untuk melatih
ketekunannya.
Bahan
pasir adalah media yang paling murah dan mudah, namun hasil pembentukannya
kurang memuaskan. Hal ini disebabkan karena karya ini mudah rusak dan bentuknya
pun kurang tajam (ekstrim). Sedangkan pasir yang digunakan dapat berupa pasir
putih yang relatif bersih dan dapat ditempatkan di dalam ruang khusus. Ruangan
atau tempat pasir putih tersebut minimal berukuran 2 x 2 x 0,45 meter dan
kegiatan bermain membentuk dengan pasir dapat dilakukan secara berkelompok.
Jika pasir putih tidak didapatkan, anak-anak dapat membentuk dengan pasir biasa
namun harus dibersihkan dan disaring terlebih dahulu agar tidak terlalu kotor
dan rata besar butir pasirnya. Area pasir biasa ditempatkan di luar kelas
(halaman sekolah) sehingga sewaktu-waktu dipergunakan untuk bermain anak-anak.
9. Kertas
Bekas
Sebenarnya
limbah kertas dapat dimanfaatkan secara langsung dengan cara melipat kertas
untuk membentuk binatang, orang, benda-benda patung atau pun kepala boneka atau
mangkuk kertas bekas yang diremas.
Karya
A adalah susunan dari dua buah kardus bekas berukuran besar dan kecil. Kedua
kardus tersebut dihubungkan dengan kertas karton yang agak tebal. Semua bagian
ditutup dengan kertas koran atau buram atau sejenisnya kemudian keringkan.
Setelah kering tambahkan ekor dan detil lainnya. Warna ekor dapat dibuat dari
kertas yang sudah mempunyai warna. Jika sudah mengering dapat dilakukan
pewarnaan, misalnya dengan cat tembok atau acrylic.
Karya B adalah kertas diremas kemudian dalam keadaan kering dibentuk menjadi
mangkuk. Jika telah menyerupai ujud mangkuk dilanjutkan dengan menutup dengan
kertas potongan memanjang, hingga membentuk sesuai apa yang diinginkan. Langkah
terakhir adalah pewarnaan.
10. Batu
Kapur
Di
pedesaan batu kapur mudah ditemukan. Batu kapur bersifat agak empuk maka cocok
untuk media karya bagi anak usia dini. Untuk
pembentukannya diperlukan alat yang dapat berupa pisau ukir (pahat) atau
menggunakan pisau yang tumpul dengan cara diukirkan. Batu kapur ini sifatnya
empuk maka bentuk patungnya pun sulit untuk dibuat rapi seperti batu hitam yang
biasa dibuat patung, karena setiap terbentuk benda tumpul batu kapur mudah
rontok sedikit demi sedikit. Namun ada juga batu kapur yang agak keras, yang
sering dibuat untuk kerajinan patung.
11. Kayu
Kayu
merupakan media bahan yang sangat umum dipergunakan sebagai bahan pembuatan
patung. Sehingga kita tinggal memilih kayu jenis apa cocok untuk pembuatan
patung. Bahan patung yang akan dibuat oleh orang dewasa (seniman patung) akan
berbeda dengan bahan patung yang akan dipakai sebagai kegiatan mematung
untuk anak usia dini.
Kegiatan
latihan mematung pada anak usia dini dapat dikelompokkan ke dalam dua teknik,
yaitu :
a. Mematung
dengan teknik konstruksi, yaitu mematung dengan cara menyusun potongan kayu
yang sudah menjadi potongan-potongan kubus atau sering disebut dengan
balok-balok yang terdiri dari persegi panjang, segitiga, kerucut, setengah
lingkaran dan lain-lain. Potongan kayu ini sudah dipersiapkan berupa
balok-balok kecil yang diwarnai sehingga menarik bagi anak-anak.
b. Mematung
dengan teknik memahat, yaitu disediakan kayu yang masih berbentuk global, yang
nantinya akan dijadikan sebuah patung dengan cara di pahat menggunakan pisau
pahat. Pisau pahat yang bisa digunakan bagi anak usia dini (khususnya anak usia
4-6 tahun) tentu berbeda dengan yang digunakan oleh pematung (seniman patung),
tetapi pisau pahat yang digunakan kegiatan latihan mematung pada anak dapat
menggunakan pisau pahat yang biasa digunakan untuk kegiatan cetak cukil, (seni
grafis) yang menggunakan hard bord
atau tripleks. Pisau pahat ini sering disebut wood cut, pisaunya berbentuk kecil dengan diberi pegangan seperti
pisau biasa. Untuk memahat pisau ini tidak perlu dipukul bagian ujungnya
seperti pada pahat biasa, tetapi cukup ditekan menggunakan tangan. Oleh karena
itu, untuk kegiatan mematung ini Anda harus memilih media bahan kayu yang
tergolong lunak (empuk), seperti kayu kapuk, kayu belanda, kayu sengon.
E.
LATIHAN MEMBENTUK
1.
Menginterpretasi
Bentuk Alam
a.
Bahan Padat dan liat
Menginterpretasi dan
meniru (mengimitasi) bentuk alam seperti: buah-buahan, binatang dan gunung.
Membentuk dengan pelatihan mengimitasi dapat dilakukan dengan menyediakan model
atau objek yang akan dimitasi atau dicontoh.
b.
Bahan Cair
Model ini menggunakan
klise cetak terlebih dahulu, seperti gips, semen atau jenis yang lain yang
tidak mudah rusak karena air, dan korosi kimia. Terdapat dua jenis klise cetak
cor: a cire perdue, dan klise tetap. Jenis yang pertama sering
disebut dengan klise cetak hilang, yaitu sekali dipakai akan rusak. Sedangkan
yang jenis klise yang kedua, harus dibuat dan dikerjakan dengan teliti
ketepatannya.
2.
Menciptakan Bentuk
Kreatif
Menciptakan bentuk
yang kreatif adalah menciptakan bentuk-bentuk yang lain dari pada yang lain.
Anak diminta memilih bahan padat yang akan dibentuk ataupun sekedar menyusun
kembali bahan padat yang ada di lingkungan sekitarnya, seperti batu, atau kayu
limbah. Untuk itu anak harus jeli memilih bahan yang sesuai dengan jenis dan
juga ide serta gagasannya.
3.
Membuat Benda Terpakai
Latihan membuat benda
terpakai dapat dimulai dari menyusun, merangkai, memodifikasi serta mengecor.
4.
Membuat Relief
Jika menggambar adalah
menggores dan menghasilkan bentuk dua dimensi, maka membuat relief pada
prinsipnya sama, yaitu membuat tinggi rendah bentuk. Langkah ini dilakukan
untuk mengatasi dan memperkaya pengamatan dengan mengembangkan teknik perabaan.
Terdapat 2 teknik memmbuat relief: (a) relief rendah yang menekankan gambar
berada dibawah permukaan rata-rata, (b) relief tinggi dengan meninggikan gambar
sejajar dengan permukaan rata-rata. Adapun tujuan melatih anak membuat relief
adalah melatih kepekaan bentuk permukaan, barangkali untuk membantu penglihatan
anak yang kurang jelas melihat perspektif.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Membentuk merupakan materi untuk melatih mahasiswa
berkarya seni rupa dengan media tiga dimensi. Membentuk juga membuat bentuk, baik
bentuk terapan yang dapat di manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari maupun bentuk-bentuk
yang kreatif sebagai karya seni murni.
Adapun ruang lingkup membentuk dibagi berdasarkan
media dan tekniknya. Tujuan kegiatan membentuk pada pendidikan seni rupa untuk
anak usia dini adalah: (a) Melatih pengamatan, (b) melatih kecermatan dan ketelitian,
(c) melatih kemampuan ketetapan, (d) melatih kreativitas, (e) melatih kepekaan
rasa indah, (i) melatih menggunakan bahan secara ekonomis dan hemat, (g)
melatih mengembangkan rasa keterpakaian tinggi, (h) melatih memanfaatkan benda
limbah menjadi benda baru untuk permainan, maupun k
MAKALAH
PENGGUNAAN
BAHAN DAN ALAT UNTUK
MENCIPTAKAN
KARYA MEMBENTUK
Diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Kerajinan Tangan yang diampu oleh :
Dra. Hj. Ike Hananik, M.Pd
![]() |
Di susun oleh :
KELOMPOK
6
Alia Elsyahada A1E415001
Fatmah A1E415010
Ifi A1E415016
Siti Soraya A1E415042
Dina Fajriyani A1E415054
KELAS
: 7A PG-PAUD
KEMENTERIAN
RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM
STUDI S1 PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2018
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim...
Puji syukur kami panjatkan
kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya
kami dapat menyelesaikan hasil makalah yang berjudul “Penggunaan Bahan Dan Alat Untuk
Menciptakan Karya Membentuk“ dengan tujuan untuk memenuhi salah tugas
mata kuliah Kerajinan Tangan. Dan juga kami berterima kasih kepada Ibu Dra. Hj.
Ike Hananik yang telah memberikan bimbingan dan arahannya dalam penyusunan tugas
ini sehingga dapat terlaksana dengan baik.
Kami sangat berharap makalah ini
dapat berguna sebagaimana mestinya, dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini
terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk itu
kami berharap adanya kritik dan saran demi perbaikan tugas yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa ada saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat
di pahami dan bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.
Banjarmasin,
05 September 2018
Kelompok
6
DAFTAR
ISI
JUDUL.................................................................................................................................i
KATA PENGANTAR.........................................................................................................ii
DAFTAR
ISI.......................................................................................................................iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Membentuk bagi Anak Usia Dini (AUD) menyajikan jenis
bentuk, dan sifat seni rupa anak, serta di lengkapi apresiasi seni rupa anak.
Materi belajar ini meliputi: arti seni rupa bagi anak, karakteristik seni rupa
anak dan perkembangan seni rupa anak di tinjau dari berbagai sudut pandang.
Praktek berkarya seni rupa anak di harapkan dapat memberi keluasan membina anak
melalui keterampilan seni rupa, dan mampu memilih metode secara evaluas yang
mana menyajikan model pendekatan belajar seni rupa anak.
Adapun teknik mengapresiasi lukisan anak untuk
kegiatan pengembangan seni rupa di kelas maupun konteks lomba melukis untuk
anak. Agar mampu mengapresiasi dan mengajar keterampilan seni rupa, kita juga
perlu berkarya menciptakan gambar, membentuk ataupun dengan jenis karya rupa
yang lain. Dengan mempelajari materi ini diharapkan kemampuan penghayatan terhadap
gambar atau karya seni rupa anak-anak akan meningkat.
Materi ini akan memberikan pemahaman tentang manfaat
mempelajari seni rupa bagi perkembangan anak, karakteristik lukisan, analisis
perkembangan lukisan anak dan teknik evaluasi melalui metode perbandingan
(komparasi) lukisan.
Setelah mempelajari hal di atas, diharapkan
mahasiswa dapat menjelaskan teknik membentuk bagi AUD dengan benar, dan secara
khusus setelah membaca maupun
mempelajarinya diharapkan mampu: Menjelaskan pengertian membentuk dan
manfaatnya bagi AUD; menjelaskan cara memilih media membentuk bagi AUD;
menjelaskan gagasan membentuk bagi AUD; memilih material membentuk bagi AUD;
dan memilih teknik membentuk bagi AUD.
Untuk mempermudah kita dalam mempelajari isi materi
ini maka akan di organisasikan ke dalam dua kegiatan belajar, yaitu sebagai
berikut.
1. Kegiatan
belajar 1 : Membentuk dan Manfaatnya
bagi Anak Usia Dini, Materi dalam kegiatan belajar ini meliputi: gambar modul,
pengertian dan cakupan membentuk, dan manfaat membentuk.
2. Kegiatan
belajar 2 : Media dan Teknik Membentuk,
dengan materi yang meliputi: menyiapkan bahan dan peralatan, serta latihan
membentuk.
B.
RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang di dapat, antara lain:
1.
Jelaskan Pengertian Dan Cakupan
Membentuk Pada Kerajinan Anak Usia Dini?
2.
Apa Saja Manfaat Membentuk Bagi Anak
Usia Dini?
3.
Apa Saja Bahan Dan Alat Yang Perlu
Disiapkan Dalam Kerajinan Membentuk?
4.
Apa Saja Yang Dapat Dibuat Dalam Latihan
Membentuk Bagi Anak Usia Dini?
C.
TUJUAN PENULISAN
1. Untuk
Mengetahui Pengertian Dan Cakupan Membentuk Pada Kerajinan Anak Usia Dini.
2. Untuk
Mengetahui Apa Saja Manfaat Membentuk Bagi Anak Usia Dini.
3. Untuk
mengetahui Apa Saja Bahan Dan Alat Yang Perlu Disiapkan Dalam Kerajinan
Membentuk.
4. Untuk
Mengetahui Apa Saja Yang Dapat Dibuat Dalam Latihan Membentuk Bagi Anak Usia
Dini.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
GAMBARAN UMUM
Membentuk merupakan materi untuk melatih mahasiswa
berkarya seni rupa dengan media tiga dimensi. Keterampilan yang di dapat
setelah mempelajari modul ini dapat digunakan untuk memberikan latihan
membentuk pada anak usisa dini. Tujuan utama mempelajari keterampilan membentuk
anak usai dini adalah mengembangkan kecakapan visual dan peningkatan kualitas
rasa seni melalui berkarya dan mengamati lingkungan sekitar. Kompetensi yang
diharapkan adalah kemampuan menginterpretasikan lingkungan untuk perkembangan
sekitar.
Ketika seorang
membeli pesawat televisi yang baru, dalam dus terdapat beberapa paket, di
antaranya: paket pesawat televisi, paket modul petunjuk praktis menyetel
pesawat televisi dan paket cara memasang antena televisi dan paket voucher atau
hadiah lain. Pada paket pesawat sendiri sudah terapat petunjuk berupa tombol
ataupun lampu dan beberapa tanda larangan untuk di pegang karena menunjukkan
bahaya dari tegangan listrik. Akan tetapi, hampir seluruh orang malas menyetel
sendiri dengan mencoba. Mereka kebanyakan meminta pengantar untuk menyetel
pesawat televisi tersebut, akibatnya harus mengeluarkan biaya tambahan sebagai
pengganti jasa menyetel gelombang dan chanel
(saluran)
Contoh di atas membuktikan betapa pentingnya seorang
mampu membaca petunjuk atau modul manual menyetel. Petunjuk tersebut disertai
gambar yang mudah di mengerti dan di pahami. Sebagaian besar paket petunjuk
pemeliharaan dan menyetel itu berupa gambar keterangan tentang seluk beluk
pesawat, tipe dan kekhususannya. Lalu, apa yang menyebabkan dia malas mengerakan
sendiri. Salah satu jawaban yang terbanyak adalah tidak mampu membaca gambar
dan menunjukan prosedur penyetelan yang sudah ada. Kemampuan membaca gambar dan
bentuk ini sering di namakan kecakapan visual. Hak ini beda degan mereka yang
mempunya visi bentuk sebagai kecakapan visual. Modul untuk menyetel secara
pelan-pelan dipelajari dengan membaca dan mecoba mempraktekkannya.
Kecakapan visual atau sering disebut intelegensi
visual (visual intellegence) adalah
kemampuan menanggapi, dan memahami benuk secara cepat. Kemampuan ini diperlukan
untuk melihat bentuk yang diam (statis) dengan susunan rumit sampai dengan
bentuk bergerak (mobile) dari
sederhana sampai dengan rumit. Pada dasarnya berlajar membutuhkan kemampuan
melihat dan menanggapi bentuk, baik dalam benuk gambar, huruf, film, maupun
video. Untuk itu kegiatan pengembangan kecakapan visual dapat di mulai dengan
mengerti bentuk-betuk di dunia baik bentuk alami tanpa warna, dan bentuk
berwarna tunggal (monochromatic)
maupun berwarna warni (polychromatic),
seperti halnya bentuk buatan (artifisial) misalnya mainan anak, benda produksi
pabrik yang lain. Di lihat dari sisi pengindraan, bentuk terjadi kalau
seseorang mampu membedakan ruang, dan latar belakang. Oleh karenanya, pemahaman
bentuk dapat dipelajari sejak usia dini.
Anak usia dini tumbuh berkembang dari belajar
memahami bentuk global sampai pada bentuk-bentuk yang rinci (detail). Kemampuan
pemahaman bentuk berkembeang seiring dengan perkembangan otak, pikiran dan
perasaannya. Manfaat kemampuan memahami bentuk sangat banyak, mulai dari
kegunaan untuk berlajar, merasakan hingga menangkap objek secara detail.
Biasanya kemampuan pemahaman anak tentang bentuk
jarang diketahui orang tua atau pendidik, sehingga anak hanya mencoba dan
mempraktekannya sendiri. Padahal kemampuan ini sangat di butuhkan dalam
perkembangan pengamatan anak. Sebagai contoh anak yang sedang belajar memahami
bentuk dia akan (a) memperhatikan mainan yang baru, melihatnya dengan seksama
kemudian (b) membongkar mainan tersebut dan melepasnya tiap bagiannya untuk
mengetahui susunannya, (c) terakhir anak akan menyusun kembali misalnya dia
akan memasang salah satu bagian yang di anggapnya menarik. Kegiatan ini kadang
hanya berhenti sampai membongkar dan dia
ketahuan oleh orang tua atau orang dewasa di sekitarnya akan dilarang. Larangan
ini akan menimbuklan kesan bahwa kegiatan memahami bentuk akan berheti sampai
disitu sehinngga akahirnya anak tidak mengetahui persis susunan dari benda atau
objek tersebut.
Pendidikan seni rupa membantu anak memahami bentuk,
baik bentuk tiga dimensi (yang mempunyai isi) maupun gambar, dengan cara
mengamati dan mencoba berpraktek. Bentuk dua demensi bisa di latihkan melalui
kegiatan menggambar, melukis dan mencetak ataupun menoreh dengan benda tajam.
Sedangkan, kegiatan latihan memahami bentuk tiga dimensi di lakukan dengan
jalan menyusup, merangkai, menoreh, memahat, mengukir, mengontruksi dan
mengecor. Selanjutnya kegiatan membentuk pada materi ini diarahkan mengontruksi,
menyusun, dan memahat.
Selanjutnya, agar seorang pendidik mampu
menyampaikan kegiatan pengembangan kecakapan visual kepada anak usia dini maka
sebaiknya harus mulai berlatih sendiri. Masing-masing kegiatan membentuk
mempunyai tujuan yang khas, misalnya pemahaman mengonstruksi bentuk bertujuan
melatih kemampuan mengamati dan menyusun secara cermat, seni dan akurat
(tepat). Memahat merupakan klegiatan memahami bentuk lewat sentuhan tangan,
yang sangat berguna bagi pengembangan kemampuan raba (tactile). Membutsir (membentuk dengan tanah liat) berguna untuk
menyusun dengan cepat dan ekonomis serta kemampuan penglihatan terhadap bentuk
yang ada. Pengaruh positif yang dapat di peroleh dengan kecakapan visual adalah
kemampuan memahami bentuk secara kontruksi, seni secara utuh beserta makna
kegunaannya.
Untuk mempersiapkan latihan membentuk, anda diminta
menyediakan media yang berbentuk liat, cair (liquid) untuk cor seperti lilin panas, padat untuk dipahat seperti
sabun atau keras seperti kayu, batu dan mengontruksi benda-benda limbah dan
karton atau kardus bekas pembungkus makanan. Selanjutnya anda diminta mengamati
beberapa bentuk yang ada dilingkungan sekitar seperti rumah, patung keramik,
dan perabotan rumah tangga.
B.
PENGERTIAN DAN CAKUPAN MEMBENTUK
Dalam kalimat sederhana, kegiatan membentuk adalah
membuat bentuk, baik bentuk terapan yang dapat di manfaatkan dalam kehidupan
sehari-hari maupun bentuk-bentuk yang kreatif sebagai karya seni murni. Adapun
ruang lingkup membentuk dibagi berdasarkan media dan tekniknya. Tujuan kegiatan
membentuk pada pendidikan seni rupa untuk anak usia dini adalah: (a) Melatih
pengamatan, (b) melatih kecermatan dan ketelitian, (c) melatih kemampuan
ketetapan, (d) melatih kreativitas, (e) melatih kepekaan rasa indah, (i)
melatih menggunakan bahan secara ekonomis dan hemat, (g) melatih mengembangkan
rasa keterpakaian tinggi, (h) melatih memanfaatkan benda limbah menjadi benda
baru untuk permainan, maupun kesenian dan benda-benda terapan.
Wawasan membentuk sebaiknya di mulai sejak dini
karena dengan sering melakukan kegiatan membentuk anak akan mempunyai kecakapan
visual yang sangat berguna bagi perkembangan lain. Sebagai contoh: kegiatan
membentuk dapat berguna untuk membantu anak belajar. Hampir seluruh kegiatan
belajar di sertai dengan gambar dan bentuk. Bentuk dalam gambar yang sebenarnya
adalah bentuk yang mempunyai isi. Dengan kecakapan visual, seseorang mudah
mempelajari materi kegiatan belajar. Kecakapan visual yang dilatih dengan
menggunakan tangan setidaknya akan memberi pengaruh positif dalam pengembangan
pengamatan sebagai bagian yang terpenting dalam modal belajar.
Isi dan cakupan kegiatan membentuk terdiri atas; (a)
menyusun atau merangkai, mengontruksi benda, (b) membutsir, (c) memahat, (d)
menempel, (e) melipat, (f) merekayasa bentuk lama menjadi bentuk baru dengan
fungsi baru, (g) mencetak dan mengecor, cakupan ini masih dikatakan bagian dari
kesenian jika dalam proses maupun hasil di temukan sesuatu bentuk yang menarik,
mempunyai nilai kreativitas yang tinggi serta sebagai karya bentuk yang baru (novelty). Kegiatan membentuk dapat
dilakukan dengan tugas individual maupun kelompok. tugas kelompok diharapkan
dapat melatih kesetiakawanan sosial diantara teman sebaya.
1. Konstruksi
Istilah konstruksi dapat diartikan sebagai menyusun
komponen-komponen atau benda-benda menjadi suatu kesatuan yang berfungsi
praktis maupun seni. Penyusunan benda sebagai komponen ide keseluruhan
menggunakan bermacam-macam media dan cara seperti: memberi lem atau perekat,
memaku, mengikat, dan menjahit.
2. Kolase
Kolase atau
menyusun benda-benda secara bebas bertujuan untuk melatih kreativitas. Benda
hasil susunan tersebut nantinya akan menjadi alat atau media bagi anak untuk
berfantasi dan mengandaikan dirinya menjadi sesuatau yang lain. Misalnya menyusun
benda-benda dengan membayangkannya sebagai makhluk angkasa luar. Bentuk kolase
ini dilakukan dengan tujuan tertentu atau sekedar disusun untuk mencapai
keindahan murni. Karya terakhir ini sering disebut seni instalasi.
Karya disamping
ini menggunakan kardus yang disusun menjadi kolase, oleh anak Taman Kanak-Kanak
karya ini dibayangkan sebagai rumah masa depan. Secara berkelompok anak-anak
mengumpulkan katron bekas makanan, dan dibantu oleh pendidik serta orang
tuanya. Mereka membuat permainan yang akhirnya ditemukan bentuk rumah.
3. Memotong dan menempel
Suatu bentuk
yang berisi (ber-ruang) dapat dibuat dengan cara memotong dan menjahit,
sedangkan bahan yang berupa kain dapat di jahit kemudian di isi dengan kain
perca, kapuk, kapas atau spon/busa. Bentuknya bisa berupa boneka, atau figur binatang
ataupun makhluk kreasi.
Teknik memotong
dan menempel juga dapat digunakan untuk mengonstruksi karton atau kardus bekas
rumah, jembatan atau bentuk lainnya yang bersifat monumental. Prosedur pembuatannya
pun dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : (a) membuat pola geometris dengan
ketepatan ukuran (precission)
kemudian disusun dengan menempelkan pola satu persatu sehingga menjadi bentuk
utuh, (b) kardus bekas pembungkus makanan seperti mie instan, kotak sabun yang
berukuran relatif besar disusun langsung sesuai dengan kreasi pada saat
mengerjakan. Penempelan kardus satu dengan yang lain bisa dilakukan dengan cara
mengikat terlebih dahulu kemudian diperkuat dengan lem atau staples sesuai
dengan kebutuhan.
4. Membutsir
Kegiatan membutsir adalah menempel sedikit demi
sedikit bahan liat dan lunak menjadi bentuk kasar dan kemudian dibentuk dan
diperhalus dengan cara mengurangi atau menambah sehingga lebih terasa padat.
Cara ini dilakukan dengan menggunakan alat sudib.
Lihat Kegiatan Belajar 2 tentang peralatan membutsir). Beberapa orang suka
membentuk tanah liat dengan jalan membuat pilinan atau memilin terlebih dahulu.
Pilin tersebut disusun mulai dari bawah menuju ke atas dan akhirnya terbentuk
pola atau figur yang diharapkan. Oleh karenanya, anak-anak dapat dilatih dengan
cara membuat pilin-pilin terlebih dahulu.
5. Memahat
Memahat adalah benda menjadi karya seni atau mainan
anak dengan menggunakan pahat. Kegiatan memahat akan menghasilkan karya ciptaan
baru yang belum pernah dibuat oleh orang lain atau membuat suatu benda dengan
fungsi berbeda dari sebelumnya. Bahan yang dipahat bisa berupa: kayu, batu atau
sabun batangan.
a. Bahan
keras (kayu) atau papan dapat dipahat dengan peralatan pahat seperti
pertukangan kayu.
b. Batu
putih
Bahan ini dipahat dengan
menggunakan pahat batu (seperti pahat batu untuk membuat Nisan), pemecah batu,
gerinda atau kikir (baik kikir halus maupun kikir kasar (patar). Bahan batu
yang cocok untuk dipahat adalah batu putih atau sering disebut batu kapur. Batu
ini mempunyai sifat keras tetapi mudah digores sehingga untuk memahat batu
kapur ini dapat digunakan alat pahat dengan memodifikasi ujungnya. Bentuk ujung
tersebut seperti pada ujung pahat kayu.
c. Bahan
Lunak (sabun)
Peralatan untuk memahat sabun lebih
sederhana dari peralatan pahat yang telah disebutkan. Hal ini disebabkan karena
bahan atau medium sabun digores dan dikeruk. Medium sabun sendiri dapat
dijumpai dimana-mana, baik sabun mandi batangan maupun sabun cuci batangan.
Cara membentuknya pun cukup mudah dan dapat digunakan secara langsung oleh
anak.
6. Melipat
Istilah melipat dapat berupa kegiatan meremas bahan
kertas kemudian disusun kembali menjadi karya seni rupa tiga dimensi. Melipat
sendiri telah dikenal dengan metode origami. Metode ini dikembangkan di negeri
Jepang sebagai salah satu bentuk seni tradisional. Kegiatan ini dilakukan untuk
mengisi waktu luang. Anak-anak sering sekali memainkan dan melipat-lipat kertas
menjadi sebuah bentuk yang menarik. Kegiatan melipat dengan metode origami
sangat penting untuk menumbuhkan kecakapan visual di samping mengembangkan rasa
seni tentang bentuk.
Origami merupakan seni melipat kertas untuk
membentuk karya tiga dimensi, dan meremas kertas lalu membentuknya kembali
merupakan karya rupa tiga dimensi yang ekspresif. Teknik ini mirip dengan
papier mage (baca papir mase) yaitu bubur kertas yang dibentuk. Kegiatan
peremasan tersebut hanya untuk kegiatan membentuk dasar dan dilanjutkan dengan
menutup kertas sobekan dengan lem.
Kertas sobekan panjang dengan lem. Penyelesaian
karya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu sebagai berikut: (1) Karya
dibiarkan tanpa warna, yaitu warna asli dari warna kertas. (2) Mengeringkan
terlebih dahulu karya yang telah di bentuk kemudian diberi warna dengan
menggunakan cat. Penampilan karya dapat berdiri sendiri mirip sebuah patung,
atau dapat juga digantung sebagai maskot.
7. Mengecor
Kegiatan mengecor ini dapat dilakukan dengan bahan
tanah liat, tanah biasa, gips, lilin dan adonan kue. Prinsip mengecor adalah
membentuk dengan membuat klise (model cetakan) terlebih dahulu, klise tersebut
dapat berupa model yang sudah ada kemudian di beri bahan tuang seperti yang
telah di sebutkan. Terdapat 3 macam bentuk klise (1) klise untuk cetak hilang
artinya klise tersebut akan rusak setelah dilakukan pengecoran, misalnya klise
tanah dengan menggali langsung di tanah, (2) klise alam seperti kulit buah-buahan
yang sederhana. (contohnya : kulit tanah, atau buah pepaya yang dibagi dua).
(3) klise tetap yaitu klise yang relatif dibuat untuk mencetak,misalnya klise
kue.
C.
MANFAAT MEMBENTUK
Lansing menjelaskan
bahwa kegiatan membentuk sangat diperlukan bagi pengembangkan anak secara
menyeluruh. Kegiatan membentuk dimulai dari mengamati benda 3 dimensi, mencoba
menirukan dan kemudian mengkresikan. Pada proses mengamati, kegiatan mengamati
bentuk 3 dimensi bukan merupakan kegiatan yang mudah terutama bagi anak. Pada
usia 2 tahun, anak belum memahami secara teliti dan detail susunan bentuk 3
dimensi. Penglihatan ini kemudian bertambah ketika usia mental dan fisik telah
mampu merasakan sebagai cara untuk mengerti bentuk. Kegiatan berlanjut ketika
anak mampu meraba benda keras dan lunak serta volume atau isi bentuk yang di
raba. Perkembangan yang paling cepat terjadi ketika perasaan dan pikiran anak
mulai terpisah. Pada saat itu usia 5 tahun anak telah mampu membedakan bentuk
tipis dan tebal serta menunjukkan volume bentuk dengan tepat.
1.
Mengenal benda
dilingkungan sekitar
Seperti kegiatan
menggambar dan melukis, anak pada usia 2 sampai dengan 5 tahun sangat sibuk
mewujudkan bentuk manusia dalam gambarnya. Dalam kegiatan membentuk pun anak
sedang mencari prinsip penyusunan. Kenneth M. Lansing (tt) menjelaskan, ketika
anak-anak diberi kesempatan memegang tanah liat, karya pertama yang dilakukan
adalah membuat pola seperti menggambar. ... They
begin by pushing, pounding, and breaking the clay for the sheer enjoyment of
tactile and kinesthetic sensations. (tt.,146).
Dari penjelasan ini, kegiatan
anak kadang hanya memainkan bentuk yang ada dan di bayangkan seperti bentuk
aslinya. Pada masa ini kegiatan mengimitasi bentuk masuk ke dalam kegiatan
permainannya. Anak mengajak berbicara benda-benda di lingkungan sekitar dan
kadang dianggapnya seperti teman. Benda- benda tersebut dapat melakukannya.
Ketika perilaku anak mulai reda, ia mulai dapat mewujudkan patung atau benda
lainnya. Secara garis besar penjelasan
tersebut dapat dilihat pada skema sebagai berikut.
![]() |
||||
![]() |
||||
![]() |
||||
![]() |
||||
2.
Pengembangan
Fungsi Otak dan Rasa
Sebelum pembahasan
dilanjutkan secara rinci tentang makna membentuk bagi pengembangan fungsi otak
baik kanan maupun kiri, maka sebaiknya anda amati bentuk kubus di bawah ini.
Coba anda sebutkan posisi atau letak garis A dan garis B. Bisakah anda
menentukan salah satu dari kedua garis tersebut yang terletak dimuka. Apakah
anda merasakan kesulitan (bingung)
ketika melihat kedududkan dan posisi kubus tersebut? adakah kesalahan
meletakkan garis ?
![]() |
B
![]() |
A
Gambar
Kubus dengan posisi garis A belum jelas sehingga sulit di identifikasi
Refleksi:
a.
Kubus tersebut memang belum ada penjelas
posisi dengan menyamakan simbol garis
b.
Kemampuan pengindraan untuk
menentukan kedudukan garis tersebut
ternyata dipengaruhi oleh subjektivitas, artinya kubus tersebut akan menjadi
berposisi garis A ada di depan garis B ada di belakangnya tergantung pada anda
sendiri sebagai pengamat.
c.
Bagi anak yang kemampuan indra
penglihatannya tidak jeli tidak dapat melihat bentuk kubus tersebut secara
tepat dan kubus tersebut mungkin akan dibterjemahkan seadanya.
d.
Bagaimana membuat dimensi yang
sesungguhnya jika garis A berada di depan.
![]() |
B
![]() |
A
Dalam gambar ini telah nampak
posisi garis A dan B, sehingga dengan mudah mengidentifikasi bentuk kubus.
3. Pengembangan
Keterampilan Teknis Kecakapan Hidup
Secara tidak sengaja kegiatan pengembangan membentuk
yang diberikan kepada anak akan menumbuhkan kecakapan yang dapat dipergunakan
untuk kebutuhan hidup. Kecakapan ini disebut dengan kecakapan berketerampilan
hidup. Dalam beberapa teori dijelaskan bahwa kegiatan berseni rupa mempunyai
dampak ikutan (nurturant effect)
yaitu efek positif sebagai efek lanjut ketika mengerjakan sesuatu. Misalnya
dengan terampil memotong kertas maka keterampilan ini dapat digunakan untuk
memotong baju di masa yang akan datang. Pemindahan keterampilan ini juga sering
disebut transfer of training. Di
dalam kehidupan nyata, keterampilan ini sangat dibutuhkan untuk mengerjakan
benda-benda atau objek lain yang sejenis. Selain itu keterampilan membentuk
dengan menyusun akan melatih rasa keindahan, akan dapat di pergunakan untuk
menyusun atau menata dan mengatur perabot rumah tangga.
D.
MENYIAPKAN BAHAN DAN PERALATAN
1. Was
atau Plastisin
Bahan ini sudah berbentuk paket yang dapat dibeli di
toko. Bahan dasar was atau plastisin berasal dari lilin dicampur dengan lemak
dan serbuk yang tidak mudah mengeras. Sifat bahan ini lunak dan mudah dibentuk.
Kelebihan bahan lunak tersebut sudah diberi warna sehingga saat digunakan dapat
dicampur. Namun jika telah bercampur, beberapa warna menjadi gelap dan tidak
bisa dipisahkan ke warna aslinya. Jika sudah digunakan berkali-kali menjadi
kehitaman (kotor) oleh tangan dan debu. Cara menggunakan was atau plastisin
adalah dengan cara diremas terlebih dahulu agar bahan menjadi lunak dan lembek
namun liat, sehingga bahan ini mudah dibentuk. Teknik membentuk dilakukan
secara langsung dengan tangan atau dengan peralatan yang dapat menimbulkan
bekas atau justru peralatan yang dapat membuat halus, seperti : balon lampu,
sendok makan serta kesan telapak tangan.
2. Sabun
Batangan
Pada
beberapa daerah sabun berbentuk batangan sulit diperoleh, karena warga sudah
banyak beralih menggunakan sabun bubuk atau cair. Sabun batangan ini dipilih
yang tidak banyak bermuatan soda, agar tidak membahayakan tangan saat
menggunakan. Teknik membentuk dilakukan dengan cara mengeruk, mengurangi dengan
benda tumpul-pipih atau alat mematung yang disebut dengan sudib. Alat sudib
sudah banyak disediakan di toko peralatan sekolah. Bahan ini terbuat dari kayu
dan ujungnya mempunyai bentuk bermacam-macam sehingga mudah menggunakannya.
Pada akhir-akhir ini juga diproduksi sudib dengan bahan kayu untuk tubuhnya dan
ujungnya berupa kawat baja. Kawat ini memudahkan untuk mengeruk dan mematahkan
batangan sabun. Sabun batangan yang bisa digunakan antara lain “sabun cuci”
ukuran sabun ini besar sehingga anak lebih leluasa. Jika batangan sabun cuci
tidak didapatkan bisa diganti dengan sabun mandi. Secara prinsip keduanya bisa
dipakai.
Batangan
sabun mandi dapat dibentuk dengan alat sudib dengan cara mengeruk, atau dapat
juga dibuat bentuk seperti menggunakan tanah liat. Caranya adalah : (a) sabun
diremas atau dilumat sehingga liat, (b) lumatan (moulding) sabun bisa diberi pewarna sesuai dengan keinginan dan
desain (rencana), (c) lumatan tersebut dapat dibuat lempengan dengan alat roler
atau langsung menggunakan tangan sehingga menyerupai daun bunga untuk membentuk
bunga, buah-buahan atau bentuk lainnya.
Cara
lain untuk membuat lempengan adalah dengan menekan (press) sabun tersebut sehingga berbentuk tipis. Secara tradisional
dapat dilakukan dengan memukul-mukul sabun tersebut hingga pipih seperti
lempengan dan selanjutnya disempurnakan dengan pijitan tangan secara langsung.
Teknik ini juga dapat dipergunakan untuk membuat lempengan dari bahan tanah
liat, tepung gandum serta serbuk kayu, maupun bubur kertas.
3. Tanah
Liat dan Tanah Keramik
Bahan ini mudah
diperoleh di pelosok pedesaan, namun di kota-kota tertentu sudah sulit ditemui.
Namun demikian bahan ini dapat dimodifikasi dengan bahan pengganti seperti abu
kayu, serbuk kayu atau abu gosok, serta bahan lain yang berupa serbuk dan mudah
dicampur dengan perekat. Jika bahan tersebut berasal dari tanah liat yang masih
padat dapat dilakukan terlebih dahulu dengan merendam tanah agar menjadi lumpur
(moulding); lumpur tersebut dibiarkan
dalam waktu tertentu. Selanjutnya diremas agar dapat menjadi liat dan mudah
dibentuk.
Jika bahan dasar
tanah liat tidak dapat dijumpai, pendidik dapat memodifikasi dari bahan abu
kayu atau abu gosok. Cara membuat agar abu tersebut menjadi liat adalah
mencampurnya dengan lem (kayu atau kertas). Bahan buatan sendiri dari abu gosok
ini relatif sulit dibentuk jika pencampuran lem terlalu cair, maka sebaiknya
ketika mencampur dengan lem diatur agar tidak terlalu cair dan diusahakan agar
kental. Agar hasil karya yang berasal dari bahan abu gosok bisa sempurna, maka
sebaiknya abu gosok tersebut disaring terlebih dahulu.
4. Tepung
Gandum
Bahan ini tidak
membahayakan anak, karena terbuat dari tepung gandum. Prinsip persiapan membuat
bahan dasar sama seperti membuat kue dari bahan tepung gandum. Pertama buatlah
adonan terlebih dahulu seperti membuat adonan kue jika akan diselesaikan dengan
pengepanan (di masak sesungguhan). Bisa juga hanya berupa adonan dengan
pencampuran lem. Jika pencampur menggunakan lem kayu maka penggunaan bahan
tersebut harus lebih berhati-hati karena masih ada unsur kimia yang
membahayakan. Namun jika pencampur tersebut dari bahan tepung kanji (ketela)
tidak berbahaya.
Bahan membentuk
ini dapat berupa (a) bahan agak cair yang nanti akan dicetak dan dimatangkan,
(b) bahan padat lunak yang langsung dibentuk menjadi bermacam-macam pola. Pada
bahan cair, pendidik dapat mempersiapkan terlebih dahulu alat atau klise
cetakan, sedangkan untuk bahan padat lunak dapat dibuat dengan cara mencetak
dengan alat cetakan seperti cetakan hewan, atau binatang serta bunga yang sudah
ada. Agar anak merasa bangga maka anak dapat membentuk langsung. Pada bahan
lunak juga dapat dibuat menjadi kue donat yang diselesaikan dengan menggoreng
mengukus dan kemungkinan ada yang direbus. Hal ini disesuaikan dengan tujuan
dan resep. Kue tersebut dapat disuguhkan kembali kepada orang lain dengan
bentuk dan hiasan yang khas. Kegiatan membentuk ini akan bermanfaat sebagai life skill.
5. Bubur
Kertas
Bubur kertas merupakan pemrosesan
kertas bentuk lembaran menjadi bentuk yang lembek seperti bubur. Kertas yang
digunakan haruslah yang mudah hancur dengan air, dalam hal ini yang paling
cocok adalah kertas koran.
6. Limbah
Serbuk Kayu
Seperti
halnya adonan bubur kertas, limbah serbuk kayu atau sering disebut serbuk
gergaji kayu. Serbuk gergaji ini biasanya dibuang atau dimanfaatkan untuk bahan
bakar dengan cara dipadatkan terlebih dahulu. Pada kesempatan ini serbuk
tersebut akan dibentuk sesuai dengan selera atau dibuat padat agar mudah
mengering dengan cara memberi lem kayu atau lem kertas sehingga pada suatu saat
mengering. Berhubung sifat serbuk ini kasar, pembentukan diharapkan secepat
mungkin agar lem tidak mengalir (banyak air). Prosedur pembuatan bubur serbuk
gergaji dapat dilakukan dengan cara berikut.
a. Serbuk
disaring atau dipilih sesuai dengan kebutuhan, jika akan dicetak bahan harus
dibuat halus.
b. Jika
serbuk yang diinginkan tidak akan diberi warna, artinya bubur padat serbuk tadi
langsung diberi lem, kemudian segera dipergunakan.
c. Jika
serbuk tadi akan dicetak maka sebaiknya agar cair dengan memperbanyak lem kayu
sebagai pencampur perekatan.
d. Jika
serbuk tersebut akan diberi warna maka pada waktu basah dapat dilakukan
perendaman dengan bahan tawas atau bahan pemutih pakaian beberapa hari
sebelumnya. Tujuan pemberian tawas atau pemutih pakaian adalah untuk memutihkan
bahan. Serbuk tersebut kemudian ditiris untuk menghilangkan atau mengurangi
kadar kandungan air agar pencampuran dengan lem dapat diatur kepadatannya.
e. Serbuk
gergaji yang sudah padat dapat dibentuk langsung; ketika akan membuat tempat
pensil dapat dilakukan dengan menempelkan pada kaleng ataupun gelas. Serbuk
tersebut dibuat agak lembek kemudian ditempelkan pada kaleng secara rata
mengitarinya. Setelah penempelan selesai maka perlu dikeringkan selama beberapa
waktu. Jika telah mengering maka mudah untuk melepaskannya. Untuk memperindah
hasil cetakan serbuk gergaji kayu tersebut dapat diberi warna dengan cat air,
cat tembok atau dengan cat kayu.
7. Cetak
dan Cor Lilin
Prosedur
cetak cor lilin memerlukan klise cetak cor yang dapat memanfaatkan benda-benda
bekas mainan anak-anak. Namun, karena bahan ini dituangkan dalam keadaan panas,
maka sebaiknya dilakukan untuk anak usia mendekati 6 tahun. Hal ini untuk
menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti luka bakar.
Klise
cor tersebut dapat dibuat terlebih dahulu kemudian digunakan untuk mengecor. Membuat
klise cor berbentuk kepala boneka yang sudah rusak badannya. Sediakan serbuk
pasir atau abu gosok yang halus dengan cara menyaring dengan kain kasa atau
alat penyaring. Campurkan lem kayu atau lem kertas dan diremas untuk menjadi
liat (moulding) dari tanah pasir atau
abu gosok. Adonan tadi dicetakkan ke dalam kardus bekas.
Adonan
setengah kering tersebut siap untuk di cor dengan lilin cair, yang terlebih
dahulu dipanaskan di dalam mangkuk yang terbuat dari bahan logam dan terdapat
pegangannya.
8. Patung
Pasir
Kegiatan
membuat patung pasir merupakan hal yang sangat disukai oleh anak-anak.
Biasanya, anak bermain-main di atas gundukan pasir dan membentuk figur yang
disukai. Pasir tersebut diusahakan sendiri oleh sekolah agar dapat dipilih
pasir yang relatif lebih bersih. Usahakan pasir tersebut tidak banyak kandungan
tanah, terutama tanah liat agar anak juga mendapatkan kesulitan ketika
membentuk figur yang diinginkan. Kemudian ini dapat digunakan untuk melatih
ketekunannya.
Bahan
pasir adalah media yang paling murah dan mudah, namun hasil pembentukannya
kurang memuaskan. Hal ini disebabkan karena karya ini mudah rusak dan bentuknya
pun kurang tajam (ekstrim). Sedangkan pasir yang digunakan dapat berupa pasir
putih yang relatif bersih dan dapat ditempatkan di dalam ruang khusus. Ruangan
atau tempat pasir putih tersebut minimal berukuran 2 x 2 x 0,45 meter dan
kegiatan bermain membentuk dengan pasir dapat dilakukan secara berkelompok.
Jika pasir putih tidak didapatkan, anak-anak dapat membentuk dengan pasir biasa
namun harus dibersihkan dan disaring terlebih dahulu agar tidak terlalu kotor
dan rata besar butir pasirnya. Area pasir biasa ditempatkan di luar kelas
(halaman sekolah) sehingga sewaktu-waktu dipergunakan untuk bermain anak-anak.
9. Kertas
Bekas
Sebenarnya
limbah kertas dapat dimanfaatkan secara langsung dengan cara melipat kertas
untuk membentuk binatang, orang, benda-benda patung atau pun kepala boneka atau
mangkuk kertas bekas yang diremas.
Karya
A adalah susunan dari dua buah kardus bekas berukuran besar dan kecil. Kedua
kardus tersebut dihubungkan dengan kertas karton yang agak tebal. Semua bagian
ditutup dengan kertas koran atau buram atau sejenisnya kemudian keringkan.
Setelah kering tambahkan ekor dan detil lainnya. Warna ekor dapat dibuat dari
kertas yang sudah mempunyai warna. Jika sudah mengering dapat dilakukan
pewarnaan, misalnya dengan cat tembok atau acrylic.
Karya B adalah kertas diremas kemudian dalam keadaan kering dibentuk menjadi
mangkuk. Jika telah menyerupai ujud mangkuk dilanjutkan dengan menutup dengan
kertas potongan memanjang, hingga membentuk sesuai apa yang diinginkan. Langkah
terakhir adalah pewarnaan.
10. Batu
Kapur
Di
pedesaan batu kapur mudah ditemukan. Batu kapur bersifat agak empuk maka cocok
untuk media karya bagi anak usia dini. Untuk
pembentukannya diperlukan alat yang dapat berupa pisau ukir (pahat) atau
menggunakan pisau yang tumpul dengan cara diukirkan. Batu kapur ini sifatnya
empuk maka bentuk patungnya pun sulit untuk dibuat rapi seperti batu hitam yang
biasa dibuat patung, karena setiap terbentuk benda tumpul batu kapur mudah
rontok sedikit demi sedikit. Namun ada juga batu kapur yang agak keras, yang
sering dibuat untuk kerajinan patung.
11. Kayu
Kayu
merupakan media bahan yang sangat umum dipergunakan sebagai bahan pembuatan
patung. Sehingga kita tinggal memilih kayu jenis apa cocok untuk pembuatan
patung. Bahan patung yang akan dibuat oleh orang dewasa (seniman patung) akan
berbeda dengan bahan patung yang akan dipakai sebagai kegiatan mematung
untuk anak usia dini.
Kegiatan
latihan mematung pada anak usia dini dapat dikelompokkan ke dalam dua teknik,
yaitu :
a. Mematung
dengan teknik konstruksi, yaitu mematung dengan cara menyusun potongan kayu
yang sudah menjadi potongan-potongan kubus atau sering disebut dengan
balok-balok yang terdiri dari persegi panjang, segitiga, kerucut, setengah
lingkaran dan lain-lain. Potongan kayu ini sudah dipersiapkan berupa
balok-balok kecil yang diwarnai sehingga menarik bagi anak-anak.
b. Mematung
dengan teknik memahat, yaitu disediakan kayu yang masih berbentuk global, yang
nantinya akan dijadikan sebuah patung dengan cara di pahat menggunakan pisau
pahat. Pisau pahat yang bisa digunakan bagi anak usia dini (khususnya anak usia
4-6 tahun) tentu berbeda dengan yang digunakan oleh pematung (seniman patung),
tetapi pisau pahat yang digunakan kegiatan latihan mematung pada anak dapat
menggunakan pisau pahat yang biasa digunakan untuk kegiatan cetak cukil, (seni
grafis) yang menggunakan hard bord
atau tripleks. Pisau pahat ini sering disebut wood cut, pisaunya berbentuk kecil dengan diberi pegangan seperti
pisau biasa. Untuk memahat pisau ini tidak perlu dipukul bagian ujungnya
seperti pada pahat biasa, tetapi cukup ditekan menggunakan tangan. Oleh karena
itu, untuk kegiatan mematung ini Anda harus memilih media bahan kayu yang
tergolong lunak (empuk), seperti kayu kapuk, kayu belanda, kayu sengon.
E.
LATIHAN MEMBENTUK
1.
Menginterpretasi
Bentuk Alam
a.
Bahan Padat dan liat
Menginterpretasi dan
meniru (mengimitasi) bentuk alam seperti: buah-buahan, binatang dan gunung.
Membentuk dengan pelatihan mengimitasi dapat dilakukan dengan menyediakan model
atau objek yang akan dimitasi atau dicontoh.
b.
Bahan Cair
Model ini menggunakan
klise cetak terlebih dahulu, seperti gips, semen atau jenis yang lain yang
tidak mudah rusak karena air, dan korosi kimia. Terdapat dua jenis klise cetak
cor: a cire perdue, dan klise tetap. Jenis yang pertama sering
disebut dengan klise cetak hilang, yaitu sekali dipakai akan rusak. Sedangkan
yang jenis klise yang kedua, harus dibuat dan dikerjakan dengan teliti
ketepatannya.
2.
Menciptakan Bentuk
Kreatif
Menciptakan bentuk
yang kreatif adalah menciptakan bentuk-bentuk yang lain dari pada yang lain.
Anak diminta memilih bahan padat yang akan dibentuk ataupun sekedar menyusun
kembali bahan padat yang ada di lingkungan sekitarnya, seperti batu, atau kayu
limbah. Untuk itu anak harus jeli memilih bahan yang sesuai dengan jenis dan
juga ide serta gagasannya.
3.
Membuat Benda Terpakai
Latihan membuat benda
terpakai dapat dimulai dari menyusun, merangkai, memodifikasi serta mengecor.
4.
Membuat Relief
Jika menggambar adalah
menggores dan menghasilkan bentuk dua dimensi, maka membuat relief pada
prinsipnya sama, yaitu membuat tinggi rendah bentuk. Langkah ini dilakukan
untuk mengatasi dan memperkaya pengamatan dengan mengembangkan teknik perabaan.
Terdapat 2 teknik memmbuat relief: (a) relief rendah yang menekankan gambar
berada dibawah permukaan rata-rata, (b) relief tinggi dengan meninggikan gambar
sejajar dengan permukaan rata-rata. Adapun tujuan melatih anak membuat relief
adalah melatih kepekaan bentuk permukaan, barangkali untuk membantu penglihatan
anak yang kurang jelas melihat perspektif.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Membentuk merupakan materi untuk melatih mahasiswa
berkarya seni rupa dengan media tiga dimensi. Membentuk juga membuat bentuk, baik
bentuk terapan yang dapat di manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari maupun bentuk-bentuk
yang kreatif sebagai karya seni murni.
Adapun ruang lingkup membentuk dibagi berdasarkan
media dan tekniknya. Tujuan kegiatan membentuk pada pendidikan seni rupa untuk
anak usia dini adalah: (a) Melatih pengamatan, (b) melatih kecermatan dan ketelitian,
(c) melatih kemampuan ketetapan, (d) melatih kreativitas, (e) melatih kepekaan
rasa indah, (i) melatih menggunakan bahan secara ekonomis dan hemat, (g)
melatih mengembangkan rasa keterpakaian tinggi, (h) melatih memanfaatkan benda
limbah menjadi benda baru untuk permainan, maupun kesenian dan benda-benda
terapan.
B.
SARAN
Demi kesempurnaan makalah ini, kami sangat
mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat membangun kearah kebaikan demi
kelancaran dan kesempurnaan penulisan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Pamadhi, H., & S, E. S. (2009). Seni
Keterampilan Anak. Jakarta: Universitas
Terbuka.
esenian dan benda-benda
terapan.
B.
SARAN
Demi kesempurnaan makalah ini, kami sangat
mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat membangun kearah kebaikan demi
kelancaran dan kesempurnaan penulisan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Pamadhi, H., & S, E. S. (2009). Seni
Keterampilan Anak. Jakarta: Universitas
Terbuka.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar